Day 18: Dosa Terbesar (a confession)

Lia, besok flight jam berapa?

Jam 6 pagi, Tasya. Jadi Lia jam 4 pagi udah checkout dari hotel.

Eh buset, pagi bener, biar langsung masuk kerja yaa diset begitu sama HRSBU

Bukan.. soalnya kan masih 6 jam lagi jalan darat dari Jambi ke Bungo.

ohhh tapi enak kan ya tinggal tidur aja di mobil.

Gak bisa, Tasya. Soalnya jalannya itu naik-turun dan belok-belok, harus tahan biar ga mabok

 

Pembicaraan yang awalnya gw mulai untuk sekedar basa-basi itu ibarat petir di malam hari yang sebenarnya tidak hujan buat gw. Sementara temen gw yang lucu dan imut bernama Lia itu harus menempuh perjalanan yang tidak mudah untuk langsung kerja keesokan harinya, gw hanya perlu menempuh 1.5-2 jam perjalanan BSD-Jakarta melewati toll yang lurus naik mobil / taksi yang tinggal tidur aja udah nyampe rumah. Dan gw pun kadang masih mengeluhkan apa yang gw sebut dengan perjuangan itu. 

Kemarin gw resmi dilantik menjadi pegawai tetap level assisten manajer di kantor gw sekarang. 1 tahun berlalu dengan penuh sumpah serapah dan keluhan. Ya, karena seiring dengan berjalannya waktu gw menemukan gw tidak betah kerja disitu. Tapi gw terikat dengan kontrak ratusan juta yang mengikat gw sampai 15 Januari 2015. 

1 tahun yang gw sesali karena ternyata gw seharusnya lebih banyak bersyukur.

bersyukur, bersyukur, dan bersyukur dengan apa yang gw dapat.

 

GAJI - bisa dibilang fixed income yang gw terima lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan gw. Membuat gw bisa berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), menikmati apa yang Jakarta tawarkan buat gw, sampai memberi sesuatu buat keluarga gw meskipun ga banyak. Ditambah tunjangan-tunjangan yang mungkin sebagian orang di luar sana tidak menerima sebanyak yang gw terima.

KENYAMANAN - gw ditempatkan di Jakarta, kota yang sama dengan habitat gw selama ini, tidak di luar kota, luar pulau, apalagi daerah terpencil. Divisi gw juga berada di kantor pusat, dan puji Tuhan, dipercayakan untuk menangani nasabah BUMN elite di Indonesia. 

PENCAPAIAN - gw yang notabene lulusan arsitektur yang hanya 5% dalam 4 tahun kuliah pake kalkulator, tiba-tiba bisa meraih peringkat 9 dari 30 orang pas pengumuman kemarin. Meskipun tertatih-tatih I could get along with all those economic and financial stuff. 

KEMUDAHAN - setiap hari gw berangkat dan pulang bareng bokap, karena gw masih tinggal di rumah meskipun itu 60-70km jauhnya dari kantor gw. Kalaupun lembur, bos gw pun kooperatif dengan selalu siap sedia dengan voucher taksi untuk mendukung gw. Plus, gw masih bisa kontak dan ketemu pacar gw tersayang setiap akhir pekan. 

 

Di atas semuanya itu gw ga bilang teman gw kurang beruntung dari gw, karena gw percaya semua orang ada rejekinya masing-masing, dan sudah diatur yang terbaik menurut kehendakNya. Satu pelajaran berharga dari percakapan singkat dengan teman gw adalah gw telah melakukan dosa besar. Dosa besar yang gw lakukan selama 1 tahun ke belakang yaitu gw tidak bersyukur atas apa yang sudah diberikan ke gw. Padahal mungkin banyak orang di luar sana yang mengharapkan bisa menikmati apa yang gw rasakan.

Gw malah mengeluh, mengeluh, bahkan pernah menangis tersedu-sedu di hadapan pacar dan orang tua minta resign. Believe me, I was one inch away from resigning and let go my graduation certificate, which also expose me with IDR 400 million penalty. 

 

oh dear God, thank You for letting me stand still till today. I don't know what will happen next, but I do want to fill my time till Januari 15th, 2015 with gratitude. 

 

gratitude, and gratitude only.