Day 20 : ego, damai, dan rindu

Ada masa dimana ego mengalahkan segalanya. Saat toleransi kehilangan kekuatannya.

Ketika itu damai yang semula menari di udara, tersulut oleh percikan. Perlahan baranya membesar, melahap habis damai hingga damai terpaksa bermetamorfosa menjadi ego.

Dan tidak ada ego yg membawa damai. Tidak mungkin damai kembali lahir dari ego.

Dan yg dibutuhkan hanyalah waktu... Ketika api itu habis, keheningan mengambil tempat. Memberikan ruang untuk menarik nafas.

Apakah kemudian datang rindu? Atau bendera putih yg berkibar?

Keduanya sanggup mendatangkan kembali damai, namun bersebrangan jalan.

Day 19: A Waltz Song

Let me sing you a waltz song...

And let's dance along the way, as I sing it out for you

About the story of a girl who has big dreams, sometimes bigger than herself

 

She shapes the image of herself and face the world 

Believing that with the image she made, the world will love her

And the universe would work to make her dreams come true

sadly so sad..

the world isn't nice enough to her

as slowly she began to taste reality

 

There are thoughts running through heads

Trying to answer every questions

Trying to solve every problems

 

But it just ain't easy, just like this waltz dance

If she is not careful enough, her man will step on her toes

Or her shiny glass slippers would stuck with the victorian dress

and gets her down on her knees...

 

No, I won't tell you how she finally manage to stand still...

As a matter of fact, her world keeps turning around for her

And she able to stand up again everytime she falls

 

I just want to tell you, you have to be

bigger than her problems,

deeper than her thoughts,

and wider than her imagination

To ever dare to ask her go waltz...

 

So now just let me sing you a waltz song...

Day 18: Dosa Terbesar (a confession)

Lia, besok flight jam berapa?

Jam 6 pagi, Tasya. Jadi Lia jam 4 pagi udah checkout dari hotel.

Eh buset, pagi bener, biar langsung masuk kerja yaa diset begitu sama HRSBU

Bukan.. soalnya kan masih 6 jam lagi jalan darat dari Jambi ke Bungo.

ohhh tapi enak kan ya tinggal tidur aja di mobil.

Gak bisa, Tasya. Soalnya jalannya itu naik-turun dan belok-belok, harus tahan biar ga mabok

 

Pembicaraan yang awalnya gw mulai untuk sekedar basa-basi itu ibarat petir di malam hari yang sebenarnya tidak hujan buat gw. Sementara temen gw yang lucu dan imut bernama Lia itu harus menempuh perjalanan yang tidak mudah untuk langsung kerja keesokan harinya, gw hanya perlu menempuh 1.5-2 jam perjalanan BSD-Jakarta melewati toll yang lurus naik mobil / taksi yang tinggal tidur aja udah nyampe rumah. Dan gw pun kadang masih mengeluhkan apa yang gw sebut dengan perjuangan itu. 

Kemarin gw resmi dilantik menjadi pegawai tetap level assisten manajer di kantor gw sekarang. 1 tahun berlalu dengan penuh sumpah serapah dan keluhan. Ya, karena seiring dengan berjalannya waktu gw menemukan gw tidak betah kerja disitu. Tapi gw terikat dengan kontrak ratusan juta yang mengikat gw sampai 15 Januari 2015. 

1 tahun yang gw sesali karena ternyata gw seharusnya lebih banyak bersyukur.

bersyukur, bersyukur, dan bersyukur dengan apa yang gw dapat.

 

GAJI - bisa dibilang fixed income yang gw terima lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan gw. Membuat gw bisa berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), menikmati apa yang Jakarta tawarkan buat gw, sampai memberi sesuatu buat keluarga gw meskipun ga banyak. Ditambah tunjangan-tunjangan yang mungkin sebagian orang di luar sana tidak menerima sebanyak yang gw terima.

KENYAMANAN - gw ditempatkan di Jakarta, kota yang sama dengan habitat gw selama ini, tidak di luar kota, luar pulau, apalagi daerah terpencil. Divisi gw juga berada di kantor pusat, dan puji Tuhan, dipercayakan untuk menangani nasabah BUMN elite di Indonesia. 

PENCAPAIAN - gw yang notabene lulusan arsitektur yang hanya 5% dalam 4 tahun kuliah pake kalkulator, tiba-tiba bisa meraih peringkat 9 dari 30 orang pas pengumuman kemarin. Meskipun tertatih-tatih I could get along with all those economic and financial stuff. 

KEMUDAHAN - setiap hari gw berangkat dan pulang bareng bokap, karena gw masih tinggal di rumah meskipun itu 60-70km jauhnya dari kantor gw. Kalaupun lembur, bos gw pun kooperatif dengan selalu siap sedia dengan voucher taksi untuk mendukung gw. Plus, gw masih bisa kontak dan ketemu pacar gw tersayang setiap akhir pekan. 

 

Di atas semuanya itu gw ga bilang teman gw kurang beruntung dari gw, karena gw percaya semua orang ada rejekinya masing-masing, dan sudah diatur yang terbaik menurut kehendakNya. Satu pelajaran berharga dari percakapan singkat dengan teman gw adalah gw telah melakukan dosa besar. Dosa besar yang gw lakukan selama 1 tahun ke belakang yaitu gw tidak bersyukur atas apa yang sudah diberikan ke gw. Padahal mungkin banyak orang di luar sana yang mengharapkan bisa menikmati apa yang gw rasakan.

Gw malah mengeluh, mengeluh, bahkan pernah menangis tersedu-sedu di hadapan pacar dan orang tua minta resign. Believe me, I was one inch away from resigning and let go my graduation certificate, which also expose me with IDR 400 million penalty. 

 

oh dear God, thank You for letting me stand still till today. I don't know what will happen next, but I do want to fill my time till Januari 15th, 2015 with gratitude. 

 

gratitude, and gratitude only. 

 

Day 17: pertanyaan-pertanyaan (belum) terjawab

Dalam hidup ada banyak pertanyaan-pertanyaan tak terjawab... apa, mengapa, dan bagaimana?

ketiganya bergaul erat dengan saya beberapa waktu ke belakang dan sampai sekarang pun... tiada bosannya ketiganya menemui saya, kadang sendiri, kadang bersamaan, kadang bersama rekannya yang lain...

terkadang saya puas dengan jawaban yang saya buat sendiri, tapi terkadang setiap jawaban menimbulkan pertanyaan baru, berputar-putar, lalu kembali ke titik awal...

 

*sigh*

satu helaan nafas sering menjadi jawaban 'terpaksa' artinya... yasudahlah nanti kita pikirkan lagi..

waktu seringkali tidak mengizinkan saya untuk mencari jawaban yang membuat saya puas.. atau kadang ketika waktu mengizinkan, saya tidak kunjung puas sampai keletihan menyerang... 

dan akhirnya tiba di helaan nafas berikutnya... berusaha memasukkan sebanyak mungkin oksigen ke kepala dan otak agar pikiran kembali ringan...

 

pertanyaan-pertanyaan tak terjawab ini memiliki dua rupa buat saya, bisa jadi di suatu masa dia mengambil rupa sebagai tantangan, dimana saya bergairah untuk berusaha menjalani hidup dengan semangat untuk mendapatkan jawabnya sesegera mungkin...

namun ada kalanya ia mengambil rupa beban yang menekan, yang membuat saya mengambil keputusan-keputusan tanpa pikir panjang, yang kemudian saya sesali, atau saya ratapi... pada masa ini, setidaknya tetes air mata menjadi jawaban yang paling melegakan....

 

 apa? 

           mengapa?

                          bagaimana?

 

sampai saat ini saya belum menemukan passion, purpose, dan vision saya... dan oleh karenanya saya pun belum menjalani apa yang disebut sebagai purpose-driven life...

tapi yang pasti, saat ini saya menjalani hidup untuk menemukan jawab dari 

apa, mengapa, dan bagaimana?

 

Day 16: Simplicity at its best

To whom it may concerned,

I failed to fulfill my own 2011's resolution. The challenge of #30harimenulis. 

Damn.

I fully take the responsibility and won't blame anything including my so-called work. 

One thing I learned from 2011 is that I failed also on time management. My tight schedule has beaten me up I choose to let myself beaten up by my tight schedule. And I felt really bad about it.

Speaking of new year, I spent my whole week/yeare-end with my family since my day offs are on Dec 31st and Jan 1st only. We choose to have a simple NYE at Porta Venezia. A nice quiet Italian Restaurant at the heart of Jakarta. No live band, just an accoustic guitar playing classics. No fireworks. No special entertainment. Nothing spectacular. Just simple dinner with simple conversation served on the table. 

...and strangely I enjoyed it so much...

Normally, I am the maximalist person when it comes to something like this. But maybe my current routines had succesfully changed my perception. The habits of heels, formal suites, perfumes, make-ups, politive talks, numbers with lots of zeros, have hurt me the whole year.

Back to what we've started...

I'm not give up on resolution yet. 2012 has given me a new chapter title ...

               "beating up own schedule"

     r e a d   m o r e b o o k s

                     g r u m b l e  m o r e o n  b l o g

Only 2013 could answer...

meanwhile I wanna explore more about the title of this post, which actually I don't really know the meaning, it just come through my head out of nowhere... *sigh*

Being Green...

When I think it could be nicer being red, or yellow, or gold
Or something much more colorful like that

It's not easy being green
It seems you blend in with so many other ordinary things
And people tend to pass you over

'Cause you're not standing out
Like flashy sparkles in the water
Or stars in the sky

But green's the color of spring
And green can be cool and friendly-like
And green can be big like a mountain
Or important like a river

Or tall like a tree

Day 15: When you've tried your best but you can't succeed...

Just had a worst final assignment ever. 

I have never felt this bad before. 

Perfectionist, yes I am. 

Expect too high, yes I am.

Low endurance, yes I am.

And I just can't stop cursing myself for letting it happen. 

I failed, perfectly failed, fallen into the bottom level of the list.

And i blame myself for not pushing myself too hard. 

People said "don't judge yourself too hard" but I can't point my fingers to others

and what just happened is beyond my limit, I couldn't take it in any adjustment.

No reason is enough to make me accept it.

 

though regrets and mistakes are what memories made of,

I still haven't recovered yet and don't know if I could.

I've tried my best, but it seemed impossible to succeed.

Geez, I hate group assignment.